Kecantikan vs Ketenteraman

Kadang saya berpikir, meskipun memang secara fitrah lelaki itu lebih cenderung menyukai yang cantik tapi secara esensi sepertinya lelaki itu lebih membutuhkan rasa tenteram yang bisa diberikan bukan cantiknya. Karena kalau dipikir – pikir secara fungsi baik itu cantik atau tidak secara umum perempuan memiliki peran yang sama, ibarat sebuah air didalam teko yang dituangkan kegelas – gelas yang berbeda, jika dilihat dari bentuk dan seni mungkin setiap gelas akan berbeda, tetapi secara fungsi sebenarnya sama yaitu untuk menghilangkan rasa dahaga.

Apa perempuan juga berpikir yang sama teradap laki – laki ? Apa yang dibutuhkan perempuan dari seorang laki – laki ? Mungkin secara sifat setiap manusia sudah jelas berbeda – beda, tapi maksudnya apakah secara esensi laki – laki analoginya juga sama seperti sebuah teko yang berisi air lalu dituangkan ke gelas – gelas yang berbeda ?

Stereotipe Perempuan Cantik
Cantik itu selalu digambarkan dengan unsur – unusr fisik, seperti halnya ketika seseorang melihat sebuah bunga. “Bagus warnanya, bentuknya, indah daunnya, wangi baunya dan lain sebagainya. Begitupun cara pandang secara umum laki – laki terhadap perempuan, walau secara selera berbeda – beda (relatif) tapi secara umum akan digambarkan terhadap hal – hal yang berkaitan dengan unsur – unsur fisik, mata yang indah, kulit putih mulus atau kuning langsat, seksi dsb.

Hal – hal seperti sikap atau kata yang baik, budi pekerti yang luhur atau hal – hal lainnya yang secara perasaan bisa membuat orang nyaman terkadang jarang tergambarkan atau dimasukan kedalam kriteria cantik. Yah mungkin karena secara bahasa umumnya kata cantik dipahami sebagai penilaian terhadap hal yang berkaitan dengan fisik.

Pengertian Tenteram
Menurut Kamus KBBI tenteram artinya aman, damai (tidak terdapat kekacauan) jadi intinya kalau dibahasakan mungkin sesuatu yang bisa membuat kita merasa tenang, nyaman secara hati dan pikiran.

Cantik ataupun Tidak Belum Tentu Menenteramkan
Bahwasanya cantik dan tidaknya seorang perempuan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketenteraman atau kenyamanan yang bisa dia berikan kepada seseorang. Ada pria yang secara fisik tampan menikah dengan perempuan yang secara fisik biasa – biasa saja atau tidak cantik namun hubungan dalam rumah tangganya tidak memenuhi unsur – unsur tenteram, begitupun sebaliknya ada juga lelaki yang menikah dengan perempuan cantik namun hidupnya juga tidak tenteram, malah semakin banyak pikiran, takut istri selingkuh, takut ditinggalkan kalau sudah tidak kaya atau jatuh sakit dsb. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan nilai – nilai kecantikan yang dimiliki seseorang.

Makanya Agama lebih menentekan seorang laki – laki untuk memilih perempuan dari agamanya ketimbang dari fisik atau hartanya. Karena orang yang benar – benar memahami secara konsep agama dengan baik dianggap akan lebih bisa memenuhi unsur ketenteraman

“Tapi kan orang yang punya agama atau paham agama juga belum tentu menenteramkan, ada juga yang lulusan pesantren, pernah ngaji tapi kelakuannya, bla bala bla”

Biasanya sering denger kata – kata itu dari mulut orang – orang skeptis. Penekanan memilih dari segi agamanya adalah ekspektasi nilai – nilai baik yang terdapat pada agama, bukan ekspektasi terhadap individu yang memahami agamanya.

Hanya saja biasanya orang itu selalu menghubung – hubungkankan nilai agama dengan pemahaman individunya atau tempat dimana dia memahami agama, padahal orang yang bisa memenuhi unsur ketenteraman seperti dalam ekspektasi agama itu tidak harus selalu orang yang memiliki pemahaman yang tinggi terhadap agama, hanya secara ekspektasi mungkin orang – orang lebih cenderung berpikir bahwa orang dengan pendidikan agama / pesantren lebih mungkin untuk memenuhi unsur ketenteraman itu, kemudian jika unsurnya tidak terpenuhi akhirnya kecewa, akhirnya menganggap menggeneralisasikan setiap orang dengan pemahaman agama salah, padahal ekspektasinya yang salah.

So well, intinya Saya cuma mengajak orang untuk menilai sesuatu bukan hanya sekedar berdasarkan nilai fisik / cantiknya saja, karena jika seorang perempuan yang kalian pilih gagal memenuhi unsur – unsur ketenteraman, mungkin kalian akan hancur secara psikologis…

2 Replies to “Kecantikan vs Ketenteraman”

  1. Menarik sekali
    Ada hal yang lupa untuk dibahas, sifat manusia inginnya maunya langsung jadi
    Tidak mau membentuk, ya karena tak ingin bersusah payah
    Ingin wanita soleh, tapi tak mau mengajari bagaimana menjadi wanita soleh. Maunya jadi.
    Ingin istrinya cantik, tapi tak mau membelikan bedak dan lipstik. Maunya modal kecil ,tapi istrinya mirip artis.
    Atau inginnya mencari istri yang ideal, dari segala unsur entah itu dari segi agamanya, kecantikannya, keturunannya dll. Tapi tak ada yang mau. Ya, akhirnya terpaksa pilih yang mau saja, daripada menjomblo selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *